Selasa, 18 Oktober 2011

SEPULUH RIBU RUPIAH


Kisah 1
SEPULUH RIBU RUPIAH
M
enjelang shalat Isya,seorang wartawan duduk kelelahan di halaman sebuah mesjid. Perutnya bertalu-talu karena keroncongan. Kepalanya clingak-clinguk mencari tukang jual makanan, tapi takkunjung menemukannya. Dari wajahnya, tamapak gurat-gurat kekecewaan.
Usut punya usut, si Wartawan ini tengah kecewa berat karena gagal bertemu dengan seorang tokoh yang hendak diwawancarai. Betapa tidak kecewa, sejak siang hari dia sudah “mengejar-ngejar” tokoh tersebut. Siang hari, mereka janji bertemu di sebuah kantor. Beberapa saat sebelum waktu pertemuan itu berlangsung, tokoh penting ini mendadak membatalkan janji, ada acara mendadak katanya. Militansinya sebagai seorang wartawan untuk mendapatkan berita telah membuat pria muda ini mendatangi hotel tempat si Pejabat meeting. Dua jam lamanya, dia menunggu. Namun sial, si Pejabat itu keluar dari pintu samping hotel sehingga tidak sempat bertemu sang Wartawan. Tidak mau patah arang, dia segera mencari tahu dimana keberadaan pejabat itu. Dia pun mendapatkan informasi bahwa orang yang dicarinya itu sudah pulang ke rumahnya di sebuah kompleks perumahan elite. Tanpa banyak pikir, sang Wartawan tancap gas. Dengan motornya yang sudah agak butut dia mendatangi perumahan tersebut. Walau harus Tanya sana tanya sini, akhirnya dia bias sampai ke rumah si Pejabat.

“Aduh maaf, Mas, Bapaknya barusan pergi lagi. Ada pertemuan lagi katanya. Tapi, Bapak nggak bilang di mananya,” kata si penghuni rumah.
Lunglailah kaki si Wartawan. Dia pun pergi. Berkali-kali dia coba mengontak si pejabat, tetapi berkali-kali pula ponselnya tidak diangkat. Sudah terbayang di benaknya kalu nanti malam dia akan ditegur atasannya karena tidak mampu mendapatkan berita. Perutnya yang keroncongan seakan menambah derita.
Saat duduk di masjid itulah, dia melihat seorang kakek yang baru saja menunaikan shalat maghrib. Dipandanginya kakek itu. Tampangnya sangat tidak meyakinkan: tinggi, kurus, jambang putihnya tidak terurus, pakaiannya sangat sederhana dan luntur warnanya, sandal jepitnya pun sudah butut. Kakek itu menghampiri sebuah tanggungan kayu bakar. Lalu mengambil topi dan duduk melepas lelah takjauh dari tempat si Wartawan. Kerutan wajahnya yang hitam terbakar matahari seakan tampak makin mengerut karena kelahan.
“Cep, peryogi suluh henteu? Peserlah suluh anu Bapa, ieu ti enjing-enjing teu acan pajeng!” kata Pak Tua kepada si Wartawan. Maksudnya, dia menawarkan kayu bakar yang dibawanya karena sejak dari pagi tidak laku-laku.
“Punten Bapa, abdi di Bumi teu nganggo suluh (Maaf Bapa, saya di rumah tidak menggunakan kayu bakar),” jawabnya.
“Oh muhun, teu sawios. Mangga atuh, Bapa tipayun, (Oh iya, nggak apa-apa. Kalau begitu permisi, Bapak duluan),”ujar Pak Tua penjual kayu bakar itu.
Sebelum Pak Tua itu pergi, si Wartawan segera mengambil dompet. Dilihatnya hanya ada uang sepuluh ribu, satu-satunya, plus beberapa keeping uang receh. Itulah hartanya yang tersisa pada hari itu untuk makan dan membeli bensin. Namun, semua itu dia abaikan. Dia berikan uang sepuluh ribu itu kepada Pak Tua. Walau awalnya menolak, tapi akhirnya dia menerimanya pula.
Sambil menahan tangis haru, Pak Tua berkata,”Hatur nuhun Kasep, tos nulungan Bapak. Mugi-mugi Gusti Alloh ngagentosan kunu langkung ageung (Terima kasih, Cakep, sudah menolong Bapak, semoga Gusti Allah menggantinya dengan yang lebih besar).” Ternyata, Bapak ini sejak pagi belum makan dan tidak punya uang untuk pulang.
Selembar sepuluh ribu telah mengubah segalanya. Dia telah sudi memasukkan rasa bahagia kepada saudaranya yang tengah kesusahan, Allah Swt. pun langsung membalasnya dengan memasukkan rasa bahagia yang berlipat-lipat ke dalam hatinya. Rasa lapar, penat, dan hati dongkol yang sebelumnya mendominasi dirinya langsung hilang sirna berganti kelapangan dan kebahagiaan. Uang sepuluh ribu itu benar-benar memberikan kepuasan yang sensasinya sulit terlupakan. Dia tidak bias berkata apa-apa selain dari tetesan air mata bahagia. “Terima kasih ya Allah, engkau telah memberiku rezeki sehingga bias berbagi,” gumamnya.
Taklama kemudian, datanglah karunia yang kedua. Ponselnya tiba-tiba berbunyi,dilihatnya sebuah pesan dari atasannya kalau dia tidak perlu mengejar si Pejabat karena ada narasumber lain yang lebih kompetenyang siap diwawancara seorang rekannya. Dia hanya memberi penugasan untuk meliput sebuah acara syukuran di salah satu hotel berbintang. Karunia Allah yang ketiga pun segera datng. Di sela-sela acara liputan di hotel iti, sang Wartawan dipersilakan oleh panitia untuk menikmati hidangan mewah yang tersedia sepuasnya. Menjelang pulang, dia mendapatkan sebuah doorprizedan beberapa buah bingkisan sebagai ucapan terima kasih dari pihak penyelenggara. “Malam yang indah…,” ujarnya.

Walau balasan untuk kebaikan dan kejahatan itu dijanjikan Tuhan pada hari kebangkitan, tetap saja muncul suatu keadaan yang mewakili balasan itu.
Apabila manusia bergembira di dalam hatinya, itu adalah balasan karena telah membuat orang lain bahagia.
Apabila sedih, itulah balasan karena membuat orang lain sedih.
Terdapat suatu bentuk balasan sebagai pemisah hari kebangkitan. (Jalaluddin Rumi)

Sumber : 114 Kisah Nyata Doa-DoaTerkabul

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...