Kamis, 08 Desember 2011

Seputar Cersil

Salah satu pengaruh budaya China yang paling kuat di Indonesia tidak bisa kita sangkal adalah cerita silat dan film serial kungfu/silat. Mulai dari kaset video Betamax di awal tahun 80'an sampai dengan detik ini DVD yang ringkas, canggih dan praktis, masih saja serial-serial silat beredar tak kenal putus. Di stasiun-stasiun TV di Indonesia di awal tahun 90'an juga banyak memutar film-film silat yang sudah di'dubbing bahasa Indonesia (terus terang lucu tenan menurut saya), dan mendapat sambutan cukup luar biasa....
Inilah kisah dunia persilatan....




Salah satu pengarang favoritku adalah Chin Yung.


Louis Cha alias Chin Yung
Cersil yang aku baca pertama kali memang karya Chin Yung, Pendekar Pemanah Rajawali, dan langsung menjadi cersil favoritku mungkin karena aku lebih senang mengikuti sepak terjang Oey Yong (leading lady "Legend") yang cerdik dan nakal dibanding sikap dingin Siao Liong Li ("Return").
Dan juga ada tokoh Gengis Khan yang kebetulan aku baca riwayatnya di Intisari pada saat yang sama. Karena tokoh sejarah ini aku jadi terkagum-kagum sama Chin Yung yang bisa-bisanya merangkai tokoh sejarah dalam jalinan cerita yang rumit nan apik.
Sesuai dengan judul tulisan ini "Jalan-jalan ...' maka ini yang mau aku bilang tentang karya Chin Yung, selain ahli sejarah Chin Yung ternyata juga ahli geografi. Lewat cersil aku jadi akrab dengan istilah Gunung Hua (atau Hua Shan). Seumur hidup mungkin aku tidak akan ke sana. Tetapi bisa membayangkan disana ada partai Gunung Hoa (Hoa San Pay). Pertemuan (pertandingan) persilatan kelas wahid konon diadakan di sana. Jadi tahu kalau pegunungan Kun Lun letaknya di barat. Kota Lok Yang ada di selatan. Kerajaan Tayli letaknya di selatan (mungkin sekarang Thailand). Dan partai yang sering diceritakan Shaolin Pay dan Wu Tang Pay memang ada di dokumentasi sejarah. Karena lokasi yang sebagian besar memang ada, tokoh yang sebagian memang ada ditambah penulisan keadaan sosial budaya yang akurat, cersil Chin Yung yang rumit memang bukan bacaan yang kacangan.
Aku juga cukup nyandu cersil karangan pengarang lain termasuk pengarang kita Kho Ping Hoo. Salah satu ciri khas karya Kho Ping Hoo adalah banyak diselipkan filsafat-fisafat hidup.. salah satu karyanya yang aku suka adalah Ouw Yang Heng-te atau Sepasang Pendekar Kembar.  
Kembali ke Chin Yung.. salah satu hal yang menarik dalam karya Chin Yung adalah karakter tokoh-tokohnya yang aneh seperti Yo Ko yang buntung namun jago, Wei Siao Pao tokoh utama yang tidak bersifat ksatria namun selalu beruntung,. Oey Yong yang cantik dan cerdas tapi jatuh cinta kepada Kwee Ceng yang polos dan bodoh,. rajawali peliharaan pesilat tangguh yang mengajar YoKo, Ho Chin Tong yang walau wanita ilmu silatnya tinggi dan jadi ujung tombak sukunya yang beragama Islam, semua pendekar wanita di To Liong To pemberani dan tidak kenal kata takut (tidak ada diskriminasi wanita), Li Mo Chou yang jahat di Return walau berdandan biarawati dan selalu pegang kebut. Pangeran yang hobi ngloyor, Toan Ki, yang di sejarah memang ada catatan tentang keluarga Toan ini. Tokoh yang muncul di cersil yang satu bisa muncul lagi di cersil lain yang tidak berhubungan. Ini yang membuat karya Chin Yung tambah menarik.
Dan banyak lagi kalau kuteruskan nanti tulisan ini jadi sepanjang cersil. Selain karya Chin Yung, ada karya pengarang lain yang aku baca agak aneh yaitu karya Ku Lung. Walau cersil, karya Ku Lung seperti cerita detektif dan konon Ku Lung memang dipengaruhi oleh penulis-penulis barat seperti Ernest Hemmingway, Jack London, John Steinbeck dan Friedrich Nietzsche. Karya Ku Lung yang familiar buatku adalah Chu Lu Hsiang (Pendekar Harum) dan Pendekar Empat Alis. Karya Chin Yung dan Liang Ie Shen lebih dipengaruhi oleh nilai-nilai China kuno seperti Khong Hu Chu, Buddha dan Taoisme. Nilai-nilai budaya China tertuang tidak hanya pada ilmu bela diri tetapi juga ilmu pengobatan, akupuntur, musik, kaligrafi, filsafat.

Dari tadi pengalamanku membaca, sekarang sedikit catatan tentang para pengarang cersil. Chin Yung banyak menerima penghargaan atas karya-karyanya. Dia sekarang, di usia 80-an masih belajar untuk gelar PhD Sejarah Cina di St. John's College, Cambridge. Sedang Liang Ie Shen tinggal di Sydney, Australia. Chin Yung dan Liang sudah lama berhenti menulis cersil. Ku Lung yang tinggal di Taiwan sudah meninggal tahun 1985. Kho Ping Hoo juga sudah meninggal. Jadi tidak ada cersil baru buatku.

Terakhir ini setting waktu karya-karya Chin Yung. Setting waktu ini menarik karena terkait dengan sejarah panjang dinasti-dinasti yang memerintah di China, kalau di TV serie mempengaruhi corak pakaian dan dandanan pemainnya. Coba bandingkan dandanan Yo Ko (Return) dengan Ouw Fei (Rase Terbang) yang rambutnya dikepang karena saat itu China dijajah bangsa Manchu.
Abad 6 SM Sword of the Yue Maiden
Abad 11 Demi-Gods and Semi-Devils
Abad 12 The Legend of the Condor Heroes
Abad 13 The Return of the Condor Heroes
Abad 14 The Heavenly Sword and the Dragon Saber
Abad 15/16 The Smiling, Proud Wanderer; Ode to Gallantry
Abad 17 Sword Stained With Royal Blood; The Deer and the Cauldron'
Abad 18 Book and Sword; Young Flying Fox; Flying Fox of Snowy Mountain

Sekarang benar-benar selesai ulasanku. Niat semula mau 'ngalor-ngidul' ternyata banyak ngomongin Chin Yung doang.
Jin Yong adalah penulisan yang benar dari Chin Yung....tapi kita lebih mengenal Chin Yung mengingat begitulah penulisan awal yang dikenal di Indonesia dan tetap melekat sampai sekarang ini. Nama asli Chin Yung adalah Zha Liang Yong dan dikenal juga sebagai Louis Cha. Lahir di Haining, Zhejiang Province tahun 1924. Total hasil karya Chin Yung ada 15 cerita silat, hasil karya sepanjang hidupnya. Dan ada museum khusus tentang seluk beluk tentang Chin Yung di Macau.  


Museum Chin Yung

Naskah Tulisan Tangan Chin Yung
Koreksi Naskah




Cover Asli To Liong To & Gambar

Sia Tiauw Eng Hiong 2008
Sin Tiau Hiap Lu 2006

To Liong To 2009 (belum selesai shooting)

Di luar pakem trilogi di atas, sebenarnya masih banyak sempalan yang berusaha mengaitkan trilogi itu mulai dari pra dan pasca kisah-kisah itu. Aku sendiri pernah membaca 2 judul pra Sia Tiauw Eng Hiong, entah siapa penulisnya, judulnya yaitu Lima Jago Luar Biasa dan Hoa San Lun Kiam. Inti dari 2 judul ini adalah masa kecil dan masa muda 5 tokoh sakti nantinya di STEH dan STHL. Lima tokoh tsb adalah: Oey Yok Su yang dikenal dengan julukan Sesat Dari Timur, kemudian Ang Chit Kong, si Pengemis Utara, Auwyang Hong si Racun Barat, Toan Hong Ya si Raja Selatan (belakangan menjadi It Teng Taysu) dan Ong Tiong Yang si Pendeta dari Tionggoan. Dua judul ini cukup menarik, masuk akal dan cukup klik dan bisa 'dimasukkan' dalam pakem trilogi tadi.
Sementara itu, setelah STHL ada yang cukup berani menuliskan lanjutan Sin Tiauw Hiap Lu dengan judul Sin Tiauw Thian Lam dan Beruang Salju. Di mana menurut aku yang sempat juga membacanya, 2 judul ini ceritanya kacau balau dan tidak ada yang nyangkut sama sekali di otak ini, cuma teringat judulnya saja. Terlalu jauh keluar dari pakem, gaya bahasa yang kurang pas dan tidak enak diikuti menyebabkan aku membaca dengan cepat, dan akhirnya lupa sampai sekarang. Yang aku ingat adalah tokoh utama adalah bernama Yo Him, anak dari pasangan pendekar rajawali Yo Ko dan Siauw Liong Lie yang super sakti mandraguna. Padahal di dalam pake trilogi di atas tadi anak pasangan pendekar rajawali adalah cewek dan tidak pernah dikenal namanya oleh siapapun dan tetap misterius. Pemunculan anak perempuan Yo Ko dan Siauw Liong Lie di To Liong To cuma ada 2 kali pemunculan di saat kritis menolong Thio Bu Ki dari kesulitan.
Beberapa ciri yang dapat dikenali dari cerita silat adalah:
  • Kisah kepahlawanan: mengusir atau melawan penjajah, atau melawan kejahatan luar biasa
  • Roman. Biasanya romantis sekali, menunjukkan kesetiaan luar biasa pasangan lakon utama, walaupun biasanya lakon yang cowok dikerubuti sekian banyak tokoh wanita di dalam cerita itu.
  • Ilmu sakti mandraguna. Segala jenis kitab, jurus dan senjata yang sakti mandraguna.
  • Jurang atau gunung. Ilmu sakti yang didapat dengan cara ajaib karena jatuh ke jurang, terdampar di pucuk gunung terpencil, selalu menjadi warna tersendiri di kebanyakan cerita silat.
  • Sesekali keluar dari kebiasaan...Siauw Liong Lie yang pantas jadi bibi si Yo Ko malah akhirnya berpasangan. Thio Bu Ki yang jatuh hati kepada 'penjajah' si Tio Beng, juga akhirnya happily ever after, dan masih banyak lagi.....
  • Bakti kepada guru dan orangtua.
  • Pengkhianatan dan intrik.
  • Dan masih banyak lagi......
Sekian dulu ulasan panjang lebar kali ini....semoga tidak mblenger dan bosan membacanya dan menambah sedikit 'ilmu silat' para pembaca....





Cover Tjersil To Liong To

Salam kang ouw.....ciaaaattttt......

Referensi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...