Minggu, 18 November 2012

LOCH 2003 - Tukang Pancing, Tukang Kayu, Petani dan Pelajar

Guo Jing memangku tubuh Huang Rong yang terluka terkena pukulan tapak besi Qiu Qianren, dengan menaiki burung rajawali mereka berhasil melarikan diri dari kejaran partai tapak besi.
Sambil memangku tubuh kekasihnya, Guo Jing terus berlari lalu setelah memanjat pohon dia melihat sebuah rumah yang dikelilingi rawa segera dia menuju kesana. Guo Jing yang tidak tahu jalan awalnya tersesat dan hanya berjalan berputar-putar.

Huang Rong walaupun tubuhnya sedang terluka dan lemah tapi dengan mudah dia mengerti jalan di hutan itu dengan petunjuk dari Huang Rong mereka pun sampai ditepi rawa yang diseberangnya terdapat sebuah rumah.
Dengan petunjuk dari Huang Rong mereka bisa masuk kedalam rumah itu dan bertemu dengan wanita aneh berambut putih yang bernama Yinggu, awalnya kedatangan mereka tidak dipedulikan olehnya tapi setelah Huang Rong dengan begitu mudah menjawab dan memecahkan teka-teki yang sedang dikerjakan Ying gu mereka pun diterima.
Ying gu melihat Huang Rong yang sedang terluka memberikan tiga buah kantung yang didalamnya ada petunjuk yang menuju kepada orang yang bisa menyembuhkan Huang Rong tapi dengan syarat jika Huang Rong sembuh maka selama setahun dia harus tinggal bersamanya.
Setelah membuka kantung yang pertama Guo Jing memacu kudanya lalu sampailah dia ditempat yang dituliskan. Disana mereka melihat seseorang yang sedang memancing di sebuah sungai yang alirannya deras.
Guo Jing membuka kantung yang kedua didalamnya ada sebuah surat, isinya tertulis kalau yang bisa menyembuhkan luka yang diderita Huang Rong hanyalah Duan Zhixing.. Guo Jing terkeju.
"Duan Zhixing" katanya kepada Huang Rong. "Bukankah dia Kaisar Selatan yang namanya sejajar dengan nama ayahmu?
Sebenarnya Huang Rong sudah lelah sekali tapi mendengar nama Kaisar Selatan dia menjadi tertarik.
"Kaisar Selatan?" katanya. " Ya, aku pernah mendengarnya dari ayah. Tapi Duan Zhixing itu Raja dari Dali. Bukankah itu sangat jauh."
Guo Jing membacakan lanjutannya.. " hanya Duan Zhixing itu melakukan hal yang tidak selayaknya, karena itu dia menyembunyikan diri di Taoyuan dan tidak mau bertemu orang luar. Jika orang bicara dengannya untuk diobati, justru itulah pantangan yang paling besar. Sebelum maksud diutarakan, orang itu akan dibuat celaka oleh tukang pancing. Maka itu berbohonglah dan katakan kalau kamu datang atas perintah gurumu Hong Qigong untuk menyampaikan berita penting kepada Duan Zhixing. Setelah kamu bertemu dengannya serahkan isi kantung yang terakhir. Keselamatanmu tergantung dengan ini."
Habis membaca Guo Jing menoleh pada Huang Rong yang juga terlihat bingung. Ia bertanya, "Rong'er kenapa Duan Zhixing banyak melakukan perbuatan yang tidak selayaknya? Kenapa meminta diobati adalah pantangan terbesarnya? Dan apa itu celaka ditangan tukang pancing?"
Huang Rong menghela napas.
"Jing gege, jangan menganggapku terlalu pintar hingga segala hal aku bisa mengetahuinya." sahutnya.
Guo Jing pun meminta maaf dan lalu menggandeng tangan Huang Rong untuk melintasi jembatan.
Mereka pun menghampiri tukang pancing Guo Jing bertanya padanya tapi tidak ditanggapi lalu tiba-tiba pancingannya bergerak melengkung dan terlihat seekor ikan berwarna kekuningan memakan umpan pancingnya tapi pancingannya malah patah dan ikan Jin wawa itu berhasil kabur.
Tukang pancing marah besar dan memaki mereka, Guo Jing tetap sabar dan menjelaskan maksud kedatangannya dan menyebutkan kalau mereka adalah murid dari pengemis berjari sembilan Hong Qigong. Mendengar itu sikap tukang pancing sedikit melunak dan sedikit lebih ramah.
Tapi begitu mendengar Huang Rong berkata kalau mereka disuruh guru mereka menemui Duan Zhixing, tukang pancing malah curiga dan menyerang mereka. Guo Jing yang sudah siaga segera menyambut serangan itu, pertarungan pun tak bisa dihindari.
Tidak mau membuang waktu Guo Jing mengeluarkan salah satu jurus 18 Tapak Penakluk Naga dan menghancurkan jembatannnya membuat tukang pancing terpaksa lari dan tidak bisa mengejar mereka.
Guo Jing dan Huang Rong terus berlari sampai napas mereka terenggah-enggah, sampailah mereka didepan sebuah tebing tinggi yang curam terdengar samar-samar nyanyian seseorang. Lantas terlihat seseorang yang sedang duduk disebatang ranting pohon yang tumbuh ditebing itu. Dilihat dari penampilannya jelas dialah tukang kayu. Mendengar suara nyanyian itu Huang Rong memujinya, "Nyanyian yang bagus!"
Tukang kayu itu berpalig dan memperhatikan keduanya. "Bagus? Apanya yang bagus?" dia bertanya
Huang Rong pun membacakan sebuah syair untuk menimpali nyanyian Tukang Kayu. Tukang Kayu terlihat senang dan mempersilakan mereka untuk naik dan mengingatkan untuk berhati-hati karena tebing itu sangat curam.
Dengan kedua tangannya Guo Jing mulai memanjat tebing itu sementara Huang Rong memegang erat dipunggungnya. Perlahan mereka mulai mencapai bagian atas tapi ketika Guo Jing menggapai keatas tebing dia kehilangan pegangan dan jatuh.. beruntung Tukang Kayu menolong mereka. Lalu Guo Jing mulai mendaki lagi dan keduanya berhasil sampai diatas.
Diatas tebing terlihat seorang sedang menarik seekor kerbau.. jelas dialah Petani. Guo Jing pun menghampiri petani setelah memberi hormat dia meminta petani untuk menunjukan jalan tapi petani malah menyuruh Guo Jing untuk mengambilkan tempat minumnya yang disimpan dibawah batu dan ketika Guo Jing mengambil tempat minumnya batu diatasnya malah menggelinding dan akan jatuh menimpa Guo Jing dengan sigap Guo Jing berhasil menahannya.
Sambil menaiki kerbaunya petani menghampiri Guo Jing dan mengambil tempat minumnya, Huang Rong yang melihat keadaan Jing gege nya segera mendapatkan akal, "Paman aku ada sepucuk surat dari guruku, Hong Qigong untuk diantarkan kepada gurumu."
Mendengar disebutkannya nama Hong Qigong, petani terlihat terkejut. "Rupanya nona adalah murid dari Tetua Hong.. bocah ini juga pasti muridnya. Tidak aneh kalau dia bisa menahan batu ini."
Huang Rong melihat petani itu dan berkata kalau kemampuan Guo Jing belum bisa menandingi kehebatan guru dan ayahnya. Petani pun bertanya siapa ayahnya, Huang Rong pun menjelaskan kalau 20 tahun yang lalu Duan Zhixing dan ayahnya telah mengadu kepandaian di puncak Huashan dan Huang Rong berkata kalau ayahnya sedang menuju kesini.
Tiba-tiba gadis itu menoleh kebelakang dan memanggil ayah, petani pun ikutt menoleh lalu dengan tongkatnya Huang Rong memukul kaki kerbau dan membuat petani jatuh terjungkal lalu dengan segera Huang Rong menarik tangan Guo Jing dan segera menjauh. Setelah tidak ada yang menahannya batu besar itu menggeliding dan akan menimpa petani. Guo Jing ingin menolongnya tapi ditahan oleh Huang Rong, beruntung petani segera sigap menahan batu itu.
Setelah melewati jembatan batu, mereka pun tiba disebuah air terjun kecil terlihat seorang berpakaian seperti pelajar sedang duduk sambil membaca kitab Konfusius.. Guo Jing pun kembali meminta kepada pelajar itu untuk menunjukan jalan ketempat gurunya. Pelajar itu tidak menjawab sekali lagi Guo Jing mengajaknya bicara tapi pelajar masih saja terus membaca kitanya.
"Rong'er, bagaimana?" akhirnya Guo Jing bertanya pada kekasihnya.
Huang Rong tidak lantas menjawab, kemudian dia mulai berpikir dan berkata dengan nada mengejek, "Biarpun kitab itu dibaca berulang-ulang sampai hafal diluar kepala, tapi jika tidak mengerti maksudnya bukankah percuma"
Pelajar itu terkejut dan lalu bertanya maksud gadis itu.
Huang Rong melihat pelajar itu sambil tersenyum mengejek, "Apakah kau tahu berapa banyak murid Konfusius?"
"Apa sulitnya?" jawab pelajar itu dengan tertawa. "Murid Konfusius ada tiga ribu orang dan yang paling pandai tujuh puluh dua"
"Dari tujuh puluh dua murid itu ada yang berusia tua dan muda," kata Huang Rong. "Tahukah kau, masing-masing ada berapa yang tua dan yang muda?"
Pelajar itu tercengang. Didalam kitab hal itu tidak dicatat dan dibicarakan.
"Aku tidak salah kan mengatakan kalau kau tidak mengerti maksud kitab itu," tanya Huang Rong. 'Tadi aku mendengar kau membaca, yang dewasa lima enam orang dan yang masih muda enam tujuh orang. Bukankah lima kali enam menjadi tiga puluh orang dan enam kali tujuh menjadi empat puluh dua. Kalau kedua jumlah itu ditambahkan, semuanya berjumlah tujuh puluh dua kan? Kau belajar tapi tidak berpikir, sungguh celaka!"
Pelajar itu tertawa dan menjadi kagum akan kecerdikan gadis itu. "Nona hendak menemui guruku, aku akan mengajukan pertanyaan jika kau mampu menjawabnya aku akn mengantarkanmu menemui guruku. Tapi jika tidak mampu silakan kembali"
"Baiklah", Huang Rong menyanggupinya.
Petani membacakan sebuah syair dan meminta Huang Rong melanjutkannya. Dengan cepat Huang Rong berhasil menjawabnya. Pelajar terlihat semakin kagum akan kecerdasan nona ini.
Pelajar kembali mengajukan pertanyaan sambil melompat diudara dia menebas dedaunan dan membentuk kata-kata dan meminta Huang Rong membalasnya.
Huang Rong pun memikirkan jawabannya lalu membisik kepada Guo Jing, Guo Jing pun melakukan hala yang sama seperti yang dilakukan pelajar melompat diudara dan membentuk kata-kata. Huang Rong menjawab pertanyaannya dan lagi-lagi pelajar dibuat kagum oleh kecerdikan nona ini. Diapun menjura dan lalu mengantarkan Guo Jing dan Huang Rong ketempat gurunya

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...