Rabu, 23 Mei 2012

The Woman in Black

Terpilih memerankan karakter yang ngetop adalah sebuah berkah sekaligus kutukan. Tidak jarang aktor yang begitu diasosiasikan dengan satu karakter lantas meredup pamornya setelah franchise yang membesarkan namanya itu tamat. Kalian ingat kan bagaimana Christopher Reeves dan Mark Hamill mati-matian berusaha melepaskan citra Superman dan Luke Skywalker yang melekat pada diri mereka? Hal yang samalah yang membuat semua orang penasaran dengan bagaimana sepak terjang Daniel Radcliffe setelah Harry Potter berakhir. Masih bisakah ia eksis di dunia perfilman atau akankah ia selalu dikenal sebagai the boy who lives saja?
Dalam film ini Harry Potter… I mean Arthur Kipps masih belum bisa lepas dari dukanya selepas kematian istrinya beberapa tahun silam saat melahirkan. Hubungannya dengan sang anak Joseph pun renggang karena Arthur harus mencari nafkah seorang diri. Ia diultimatum oleh firma hukum tempatnya bekerja untuk bisa mengurus rumah milik Alice Dabrow yang terletak di pedalaman kota Inggris. Ketika Arthur sampai di sana atmosfir dari orang-orang di sana benar-benar tidak bersahabat dan menginginkan Arthur langsung pulang saja.

Harry Potter: Woman Hunter

Arthur tidak menyerah dan malahan pergi ke rumah milik Alice Dabrow yang bernama Eel Marsh House, sebuah rumah yang terletak di tengah pulau rawa. Angker? Dari bentuknya saja sudah kelihatan mengerikan. Akan tetapi fakta yang ada di baliknya makin mengerikan lagi. Arthur menemukan bahwa rumah itu dihantui oleh seorang wanita berbaju hitam – seorang woman in black (yang tidak ada sangkut pautnya dengan Will Smith sama sekali!). Bisakah Arthur menyelidiki misteri yang menyelimuti rumah ini?
The Woman in Black Poster

Saya tidak pernah kuat menonton film horror dan The Woman in Black bukan pengecualian. Berulang-ulang saya menutup mata – sesekali bahkan kepala saya dengan jaket – ketika adegan mengerikan muncul. Sialnya sutradara James Watkins ini cukup handal menggunakan teknik mengagetkan penonton. Beberapa kali false alarm dan adegan seram sungguhan berbaur menjadi satu membuatku terkesiap ngeri. Kalau melihat tensi penceritaan film ini mengingatkan saya pada film 1408. Ia diawali dengan tempo yang agak lambat di awal lantas terus menggedor jantung penonton di satu tempat dan baru sedikit menurun lagi pada penghujung film.
Musik dari Marco Beltrami pun pas untuk membangkitkan bulu kuduk penonton dengan memakai musik-musik khas abad dahulu kala. Tentu saja setting rumah berhantu pada era di mana mistik klenik masih kental DAN terpisah begitu jauh dari peradaban memberi kesan klaustrofobik menakutkan yang kental. Bila dibandingkan dengan film thriller / horror lain yang saya tonton di awal tahun ini: Dream House, sudah jelas The Woman in Black jauh jauh jauh lebih superior.


With the Woman in White…

Hanya saja saya menyayangkan karakter Arthur yang diperankan oleh Daniel. Emosi yang ia tampilkan masih terlalu datar. Ekspresi ketakutan dan paniknya hanya muncul secara tertahan ketimbang keluar secara natural. Apakah memang ini gaya akting dari Radcliffe ya? Saya berharap ia bisa mendorong lagi kemampuan aktingnya di film-film berikutnya. Oh ya, tidakkah kalian merasa Radcliffe masih terlalu ‘muda’ untuk dijadikan seorang ayah di film ini? Begitu disandingkan dengan Ciaran Hinds saya malah seperti melihat paman dan keponakan bukannya rekan sebaya yang sama-sama punya anak.
So my verdict is… bagi kalian yang berjantung lemah lewatkan film ini. Saya tidak mau bertanggung jawab untuk serangan jantung mendadak yang terjadi bagi orang yang tak biasa menonton horror. Bagi yang sudah terbiasa, film The Woman in Black akan memberi alternatif penggedor jantung yang menyenangkan.

sumber : http://tukangreview.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...