Sabtu, 19 Mei 2012

Xin Bao Qing Tian 2008



Case 1 – Beating the Dragon Robe / A Civet for a Prince, Part 1

Seorang pemuda penjual sayur menemui Bao untuk meminta keadilan bagi ibu angkatnya. Karena wanita tua ini buta, Bao dkk menemuinya di rumah (biasanya pelapor sendiri yang menghadap, bukan sebaliknya). Setelah memastikan yang bicara di hadapannya adalah Hakim Bao yang terkenal adil dan tidak memihak, barulah wanita ini menunjukkan sebentuk bola emas yang di dalamnya terdapat mutiara pusaka. Wanita tua ini mengatakan pada Bao kalau benda ini hanya ada 2 buah di dunia. Benda ini dulu adalah pemberian Kaisar sebelumnya pada 2 orang selir kesayangannya, Selir Liu dan Selir Li. Wanita tua ini mengaku sebagai Selir Li dan menyatakan ingin menuntut Selir Liu yang kini sudah menjadi ibusuri!

Bao jelas keheranan dengan pernyataan wanita tua ini, apalagi Selir Li dulu dikabarkan sudah tewas dalam kebakaran di istana dingin. Awalnya Bao mengira wanita ini hanya mengada-ada, namun ternyata dia bisa mengatakan nama orang-orang yang tinggal di istana dalam. Apalagi bola yang dibawanya jelas bukan barang palsu yang bisa dibuat sembarangan. Bao-pun meminta wanita tua ini menceritakan kisahnya.

28 tahun yang lalu, Selir Li dan Selir Liu sama-sama hamil. Kaisar yang merasa senang dengan berita ini berjanji akan mengangkat pangeran yang dilahirkan duluan sebagai putra mahkota dan selir yang melahirkannya sebagai permaisuri. Setelah beberapa bulan, ternyata Selir Li-lah yang lebih dulu melahirkan. Karena rasa iri, Selir Liu menyuruh kasim kepercayaannya, Guo Hai menyuap sang bidan dan menukarkan pangeran yang baru lahir itu dengan mayat kucing (atau musang, yang jelas ukurannya hampir sama). Karena dituduh telah melakukan praktik sesat hingga melahirkan ‘monster’, Selir Li-pun dijebloskan ke istana dingin (suatu tempat buangan bagi para selir yang sudah tidak lagi disukai Kaisar). Selanjutnya, Selir Liu melahirkan seorang pangeran juga dan karenanya diangkat sebagai permaisuri, sementara putranya menjadi putra mahkota.

7 tahun setelah kejadian itu, sang putra mahkota (anak Selir Liu) meninggal karena sakit. Karena Kaisar tidak memiliki anak laki-laki lain, maka anak laki-laki dari Pangeran Kedelapan (adik Kaisar) yang ketika itu berusia 7 tahun diangkat sebagai Putra Mahkota dan diboyong ke istana. Selama di istana, Pangeran kecil ini dirawat oleh Permaisuri Liu dan sudah menganggap sang Permaisuri seperti ibu kandungnya sendiri. Setelah Kaisar sebelumnya wafat, Sang Pangeran inilah yang menjadi penerusnya, yaitu Kaisar saat ini.


Sementara itu, di istana terjadi keributan besar. Bai Yu Tang, sang tikus kelima dari Pulau XianKong telah menyusup dan mecuri giok kesayangan Kaisar, padahal benda itu diletakkan persis di samping ranjang Kaisar (bayangkan kalau BYT berniat jahat, Dinasti Song sudah ganti Kaisar [worried]). Bai Yu Tang juga meninggalkan surat tantangan pada Zhan Zhao (sudah tahu, kan, motifnya tak lain karena marah dengan gelar Yu Mao / Kucing Istananya Zhan Zhao ^-^). Bila Zhan Zhao ingin mendapatkan kembali benda itu, sang perwira harus mengambilnya sendiri ke Pulau Xian Kong dan mengalahkan Bai Yu Tang beserta keempat saudaranya yang lain.

Giok itu memiliki kenangan tersendiri bagi Kaisar. Dulu, ketika sang Kaisar masih berusia 7 tahun (ketika dia pertama kali dibawa ke istana) pangeran kecil ini bermain-main dan tersesat hingga masuk ke istana dingin yang terlarang. Di sana dia bertemu dengan seorang wanita (yup, dialah selir Li) yang memberinya nasehat agar menjadi pemimpin yang baik di kemudian hari. Wanita inilah yang memberikan giok itu padanya. Selanjutnya, mereka tak pernah berjumpa lagi hingga akhirnya terdengar kabar kalau istana dingin habis terbakar dan selir Li juga tewas di dalamnya. Sang Kaisar terus mengenang pertemuan mereka dan menyimpan giok itu baik-baik, hingga akhirnya dicuri oleh si Jin Mao Shu, Bai Yu Tang.

Kaisar jelas marah dengan ulah Bai, karena selain mencuri benda kesayangannya, BYT juga berarti telah melecehkan wibawa Kaisar. Kaisar berniat akan mengirim pasukan untuk menyerbu dan meluluh-lantakkan Pulau XianKong. Bao berusaha mencegah dan menjelaskan kalau kelancangan BYT ini disebabkan kemarahannya atas gelar Yu Mao dari Kaisar pada Zhan Zhao. Bai Yu Tang, sebagai pendekar dunia persilatan sampai berani melakukan kelancangan ini karena merasa tidak terikat dengan aturan pemerintah. Karena masalah ini berawal karena Zhan Zhao (yang ditantang BYT juga Zhan Zhao seorang), maka Zhan Zhao-lah yang harus pergi mengambil kembali gioknya. Maka berangkatlah sang Kucing ke pulau markas para Tikus.

Case 1 – Beating the Dragon Robe / A Civet for a Prince, Part 2

Zhan Zhao memacu kudanya hingga tiba di tepi danau. Karena Pulau XianKong yang dituju ada di seberang danau, Zhan Zhao meminta seorang tukang rakit mengantarkannya. Di tengah danau, si tukang rakit menanyakan pada sang perwira, apakah dia bisa berenang. Ketika Zhan Zhao menyatakan tak bisa berenang, tiba-tiba si tukang perahu melompat ke air dan menghancurkan rakitnya. Beruntung Zhan Zhao cepat tanggap dan dengan memanfaatkan ilmu meringankan tubuhnya segera menendang potongan-potongan bambu (yang tadinya diikat menjadi rakit) secara berjajar memanjang. Potongan bambu itu digunakan sebagai pijakan dan akhirnya sang perwira bisa menyebrang tanpa terkena air sedikitpun sekaligus menghindari serangan si tukang rakit dari bawah air. Si tukang rakit, yang tak lain adalah Jiang Ping, si Tikus Air mengakui kehebatan Zhan Zhao dan membiarkannya melanjutkan perjalanan.

Selanjutnya, Zhan Zhao ditantang oleh Shu Qing, sang Tikus Gunung. Tikus Ketiga yang terkenal karena kekuatan fisiknya ini melemparkan bongkahan-bongkahan batu berukuran besar pada Zhan Zhao, yang dapat ditangkis semua oleh sang perwira. Akhirnya, Shu Qing-pun berhasil dipukul hingga roboh dan kapak senjatanya berhasil direbut oleh Zhan Zhao; dan dengan demikian menunjukkan kalau sang perwira juga lebih hebat darinya.

Zhan Zhao tiba di markas utama para Tikus dan dijamu oleh Lu Fang dan keempat adiknya. Sang Tikus Langit menyatakan akan mengembalikan giok yang dicuri adik kelimanya itu kalau Zhan Zhao sudah mengalahkan mereka berlima (tikus ke-4 dan ke-3 sudah kalah, berarti tinggal tikus ke-1, 2, dan 5. Mereka sebenarnya tak setuju dengan ulah lancang Bai Yu Tang, namun mereka sendiri juga penasaran dengan kemampuan Zhan Zhao). Yang akan menantang sang Kucing selanjutnya adalah Ketua Lu sendiri, sang Tikus Langit. Diam-diam, Bai Yu Tang yang khawatir kalau kakak pertamanya juga tak bisa mengalahkan Zhan Zhao meminta bantuan kakak keduanya, sang tikus tanah untuk memasang jebakan (Han Zhang, sang tikus tanah keahlian silatnya tak seberapa, namun ahli dalam memasang bahan peledak). Han Zhang sendiri tak bertarung melawan Zhan Zhao karena peledaknya sulit dikendalikan. Bila nantinya Bai Yu Tang yang kemampuan silatnya paling tinggi di antara kelima tikus juga kalah dalam pertarungan, kakak keduanya itu diminta meledakkan mereka berdua (Bai Yu Tang dan Zhan Zhao) agar mati bersama.

Pertarungan Sang Tikus Langit dan Zhan Zhao diadakan di sebidang tanah yang dipenuhi cagak kayu. Peraturannya sederhana, mereka harus bertarung di atas cagak-cagak itu dan barangsiapa yang lebih dulu menyentuh tanah berarti kalah. Zhan Zhao bertarung dengan Lu Fang, dan akhirnya sang tikus Langit yang keahlian utamanya adalah ilmu meringankan tubuh ini juga harus mengakui bahwa Zhan Zhao bahkan lebih hebat darinya. Melihat kakak pertamanya juga kalah, Bai Yu Tang meminta kakak keduanya segera menyiapkan jebakan di hutan bambu, tempat pertarungan terakhir akan dilakukan.

Pertandingan antara Zhan Zhao melawan Bai Yu Tang berlangsung dengan seru. Kemampuan silat mereka hampir seimbang. Pada saat-saat kritis, Bai Yu Tang berhasil menyabet pedang Zhan Zhao hingga patah. Melihat pedangnya berhasil dipatahkan, Zhan Zhao mengaku kalah pada Tikus kelima itu. Belum lama Bai Yu Tang membanggakan kemenangannya, Shu Qing yang mengambil potongan pedang Zhan Zhao menyatakan kalau sebenarnya Bai Yu Tang-lah yang kalah.

Ternyata, pedang yang digunakan Zhan Zhao untuk melawan Bai Yu Tang adalah pedang palsu dari bambu. Tak heran kalau Bai bisa mematahkannya semudah itu (jadi kesimpulannya Zhan Zhao mengalah untuk membuat Bai Yu Tang merasa puas). Bai Yu Tang shock dengan kejadian ini dan langsung kembali ke markasnya dengan lesu . Para tikus yang lain meminta maaf pada Zhan Zhao atas ulah adik kelima mereka. Mereka juga meminta sang perwira memaklumi sifat sang Jin Mao Shu itu. Bahkan Han Zhang, yang pada BYT mengatakan sudah memasang jebakan, membuka rahasia pada mereka kalau jebakan yang dibuatnya sebenarnya adalah jebakan kosong tanpa peledak sedikitpun.

Sesuai janji, Bai Yu Tang mengembalikan giok Kaisar pada Zhan Zhao. Zhan Zhao menjanjikan pada mereka kalau semua masalah sudah selesai sampai di sini. Bila Hakim Bao atau Kaisar berniat memperpanjang masalah dan menghukum para tikus, Zhan Zhao-lah yang akan menanggung semua hukuman itu karena sang perwira merasa kalau semua masalah bermula karena dirinya. Zhan Zhao yang sudah mendapat pengakuan dari kelima tikus segera kembali ke ibukota.

Case 1 – Beating the Dragon Robe / A Civet for a Prince, Part 3

Selagi Zhan Zhao berada di Pulau Xian Kong, Bao mengurus masalah Selir Li. Pertama, GongSun Ce berusaha melakukan terapi untuk menyembuhkan kebutaan sang selir yang ternyata disebabkan karena terlalu banyak menangis. Selanjutnya, Bao menyuruh Wang Chao dan Ma Han menjemput Chen Lin, mantan Kasim kepercayaan Kaisar terdahulu yang sudah pensiun di kampungnya. Karena merupakan orang kepercayaan Kaisar, tentulah Chen Lin bisa mengkonfirmasi kebenaran kisah yang dituturkan oleh Selir Li, apalagi sang selir sendiri yang mengatakan kalau orang yang membantunya kabur adalah kasim tua itu.

Di istana, ibusuri Liu mendapat mimpi buruk. Peristiwa 28 tahun yang lalu kembali menghantuinya. Kabar mengenai Bao yang menyuruh orang menjemput Chen Lin sampai di telinganya dan membuatnya was-was. Sang ibusuri menyuruh kasim Guo Hai diam-diam mengawasi Bao.

Zhan Zhao tiba di ibukota dan menyerahkan giok Kaisar. Namun seperti yang sudah ditakutkan sebelumnya, Sang Kaisar ternyata tak mau melepaskan Bai Yu Tang begitu saja. Bao dan Zhan Zhao berusaha meredakan kemarahan sang Kaisar dan akhirnya masalah ini dikesampingkan dahulu karena ada masalah yang lebih besar menunggu, yaitu tentu saja masalah Selir Li.

Selagi menunggu Wang Chao dan Ma Han yang menjemput Chen Lin, Bao membawa Selir Li ke kediaman Pangeran Kedelapan (sebelumnya Bao menunjukkan bola emas milik selir Li pada Pangeran Kedelapan yang kemudian dibenarkan sang Pangeran sebagai pemberian kakaknya, Kaisar terdahulu pada selir Li). Pangeran Kedelapan pun mengakui Kalau Selir Li benar adalah kakak iparnya yang dulu dikiranya sudah mati. Guo Hai yang saat itu juga ada di kediaman Pangeran Kedelapan untuk meminta obat (karena ibusuri Liu susah tidur, Kuo Hai memintakan obat yang bisa membuat tidur nyenyak pada Pangeran Kedelapan) tanpa sengaja melihat Selir Li dan kaget melihat kemiripan wanita tua itu (sementara ini diaku sebagai saudara jauh Bao dari kampung) dengan Selir Li. Guo Hai menceritakan hal ini pada Ibusuri.

Ibusuri penasaran sekaligus ketakutan, apakah benar ‘saudara jauh Hakim Bao’ ini adalah Selir Li. Yang membuatnya curiga adalah mengapa Bao membawa saudara jauhnya menemui Pangeran Kedelapan; yang seharusnya tak memiliki hubungan apapun. Karenanya ibusuri meminta Bao mengantar ‘saudara jauhnya’ itu ke istana, dengan alasan Ibusuri ingin mengundang dan berbincang-bincang dengan wanita tua itu.

Mau tak mau, Bao mengantarkan Selir Li ke istana dan meminta Zhan Zhao, yang juga adalah pengawal bersenjata istana untuk mengawal sekaligus melindunginya (Bao yang seorang pejabat biasa tak boleh masuk ke istana dalam). Melihat wanita tua yang buta itu, ibusuri Liu kaget, kerena memang orang yang ada di hadapannya persis dengan selir Li. Karena belum yakin benar (mungkin saja kebetulan ada orang yang mirip), ibusuri berusaha memancing-mancing selir Li agar kelepasan dan mengaku, termasuk menceritakan persahabatannya dulu dengan almarhum selir Li (selir Li dan Selir Liu dulunya sangat akrab seperti kakak beradik. Yang membuat Selir Liu sampai hati melakukan muslihat keji ini adalah pernyataan Kaisar yang akan mengangkat selir yang melahirkan pangeran lebih dulu sebagai permaisuri. Hal inilah yang menimbulkan bibit iri dan kebencian di hati selir Liu). Beruntung selir Li bisa mengelak semua pancingan itu, namun tindak tanduknya semakin membuat ibusuri penasaran.

Ibusuri menyatakan ingin mengajak selir Li menginap di istana. Meski Zhan Zhao keberatan, karena ibusuri sendiri yang meminta, sang perwira akhirnya tak bisa berbuat apapun dan hanya bisa berjaga di luar kamar. Ibusuri yang tak kehabisan akal untuk membuktikan apakah wanita itu benar-benar selir Li meminta seorang dayang yang ditugaskan membantu menyisir rambut wanita tua itu memeriksa apakah di lehernya memiliki tanda lahir seperti milik selir Li. Ternyata wanita itu memang memiliki tanda lahir tersebut; dan membuat sang ibusuri semakin ketakutan karena berarti semua rahasianya sebentar lagi akan terbongkar oleh Bao. Meski ingin menghabisi wanita itu, ibusuri tak bisa berbuat apapun karena Zhan Zhao menjaganya.

Keesokan paginya, Zhan Zhao bergegas mengajak selir Li pulang ke Pengadilan Kaifeng sebelum Ibusuri sempat menahan mereka lagi. Bao ternyata juga sudah menjemput di depan gerbang istana dan membuat ibusuri tak bisa lagi mencari alasan agar selir Li tidak pergi. Guo Hai menyadari kalau Bao mengutus orang menjemput Chen Lin tentulah karena masalah ini, maka diapun segera megirim orang untuk mencegat dan membunuh Chen Lin sebelum mencapai Kaifeng.

Sementara itu, Bai Yu Tang pergi diam-diam dari markas para tikus dengan meninggalkan sepucuk surat untuk keempat kakaknya. Sang Jin Mao Shu yang memiliki kebanggaan diri tinggi ini rupanya menyadari kesalahannya dan berniat menyerahkan diri ke ibukota. Seorang pendekar sejati harus berani menanggung sendiri akibat semua perbuatannya. Lagipula, dia tak sudi kalau semua kesalahannya malah ditanggung oleh Zhan Zhao. Bai Yu Tang pergi diam-diam karena tak mau menyusahkan keempat saudaranya.

Case 1 – Beating the Dragon Robe / A Civet for a Prince, Part 4

Tibalah Bai Yu Tang di Pengadilan Kaifeng dan membuat Zhan Zhao tercengang. Meski Zhan Zhao masih saja menyatakan akan menanggung hukuman untuknya, Bai Yu Tang malah memaksa ingin bertemu Bao. Pada Bao, Bai Yu Tang menyatakan siap menerima hukuman apapun, meski itu hukuman mati. Bai juga menolak mentah-mentah semua pembelaan Zhan Zhao untuknya. Bai Yu Tang sebenarnya bisa kabur dan menyembunyikan diri dari kejaran prajurit istana. Bila memang berniat menyembunyikan diri, tak mungkin pasukan istana bisa menemukannya karena dunia persilatan itu sedemikian luasnya. Namun sifat Bai yang penuh harga diri membuatnya takkan sanggup hidup dalam persembunyian seperti seorang pengecut. Baginya lebih baik mati sebagai pendekar sejati yang penuh kebanggaan daripada hidup dihantui rasa takut.

Tak lama kemudian, keempat tikus lainnya juga muncul di Pengadilan Kaifeng. Pada Bao dan Zhan Zhao mereka menyatakan, bila adik kelima mereka dihukum, mereka juga ingin dihukum bersamanya. Bila harus mati, mereka akan mati bersama. Bao benar-benar dibuat kagum oleh keberanian Bai Yu Tang dan kesetiaan di antara kelima tikus itu hingga memberi mereka julukan ‘Wu Yi’ (Lima Kesetiaan).


Tikus ke 1-4


[COLOR="navy"]Bai Yu Tang[/COLOR]

Bao merasa, kelima pendekar ini memiliki potensi untuk membantu kerajaan, hingga akan sia-sia bila bakat mereka terbuang begitu saja dan mereka dihukum mati. Bao memikirkan cara agar kelimanya bisa menebus kesalahan dengan membuat jasa. Bao-pun terpikir masalah selir Li dan mendapat ide agar kelima Tikus pergi menyusul Wang Chao dan Ma Han yang menjemput Chen Lin, seorang saksi kunci masalah ini (Bao khawatir kalau pihak ibusuri mengetahui masalah Chen Lin dan mengirim orang untuk membunuhnya).

Kelima tikus berhasil menyusul Wang Chao dan Ma Han yang kembali ke ibukota membawa Chen Lin. Di perbatasan, rombongan ini dicegat oleh pasukan kerajaan. Ternyata benar kekhawatiran Bao, pasukan ini ternyata adalah samaran para pembunuh bayaran yang disuruh oleh Guo Hai untuk mencegat dan membunuh Chen Lin. Beruntung keberadaan kelima Tikus yang terkenal di dunia persilatan berhasil membalikkan keadaan. Dalam sekejap para pembunuh bayaran ini dibuat tercerai-berai dan merekapun melanjutkan perjalanan dengan aman sampai ke Pengadilan Kaifeng.

Chen Lin bertemu dengan Selir Li yang matanya sudah berhasil disembuhkan oleh GongSun. Pada Bao dan Pangeran Kedelapan, Chen Lin menceritakan bagaimana selir Li berhasil lolos dari istana dingin yang terbakar itu. Rupanya dulu, setelah selir Li yang terkurung selama 7 tahun di istana dingin bertemu dengan sang Pangeran kecil (anak Pangeran Kedelapan yang dijadikan putra mahkota setelah anak selir Liu meninggal), sang selir menceritakan pertemuannya itu pada Chen Lin yang waktu itu kerap menjenguknya. Chen Lin-pun menceritakan sebuah rahasia pada selir Li mengenai sang Pangeran kecil.

Ketika itu, setelah selir Li melahirkan putranya (yang kemudian ditukar kucing), bayinya itu dibawa oleh si bidan dan diserahkan pada Kou Chu, seorang dayang yang disuruh oleh Guo Hai untuk membunuh dan membuang mayat bayi malang itu. Kou Chu tak sampai hati menghabisi bayi malang tak berdosa itu dan malah menyerahkannya pada Chen Lin secara diam-diam. Kou Chu-pun mengatakan pada Guo Hai kalau dia sudah membunuh dan mengubur mayat bayi itu di punggir sungai. Selang beberapa hari kemudian, Kuo Hai dan selir Liu mulai curiga pada gadis itu dan menyuruhnya menunjukkan tempat mayat bayi itu dikubur.

Tentu saja Kou Chu tak bisa menunjukkan tempatnya, karena memang tidak ada bayi yang dikubur. Kou Chu disiksa habis-habisan oleh Guo Hai yang menyuruhnya menunjukkan keberadaan bayi itu. Kou Chu yang tak tahan disiksa namun juga tak mau membuka rahasia ini akhirnya bunuh diri.

Sementara itu, Chen Lin yang diserahi bayi putra selir Li dari Kou Chu tak berani mengatakannya pada Kaisar karena takut Selir Liu akan mencari cara lagi untuk mencelakainya. Akhirnya Chen Lin meletakkan bayi itu ke dalam keranjang buah dan mengantarkannya ke kediaman Pangeran Kedelapan. Hari itu juga adalah hari ulang tahun sang Pangeran, jadi takkan mengherankan kalau sang Kasim mewakili Kaisar mengirim buah untuk Pangeran Kedelapan. Pangeran Kedelapan yang menerima ‘buah’ itu kaget setengah mati ketika mendapati bayi di dalam keranjangnya. Setelah Chen Lin menceritakan masalah sebenarnya, sang Pangeran memutuskan akan merawat dan membesarkan sendiri bayi putra kakaknya (kaisar sebelumnya) itu. Apalagi sebelum ini istri Pangeran Kedelapan baru saja keguguran namun belum ada yang tahu mengenai hal ini. Dengan demikian, Pangeran Kedelapan dengan mudah bisa mengakui kalau bayi itu adalah putra kandungnya sendiri.

Case 1 – Beating the Dragon Robe / A Civet for a Prince, Part 5

Selanjutnya, karena putra mahkota yang dilahirkan selir Liu meninggal, bayi selir Li inilah yang kemudian dibawa ke istana sebagai Putra Mahkota saat berusia 7 tahun, dengan semua orang mengiranya sebagai putra kandung Pangeran Kedelapan. Kesimpulannya, sang Pangeran Kecil, yang kemudian menjadi Kaisar saat ini, sebenarnya adalah anak kandung Selir Li sendiri yang sebelumnya dikira sudah tiada.

Mendengar kenyataan ini dari Chen Lin, Selir Li hanya bisa mendoakan keselamatan sang Pangeran Kecil secara diam-diam di istana dingin. Mereka tak berani mengatakan kebenaran ini karena saat itu sang Pangeran masih kecil dan takut kalau sang permaisuri berusaha mencelakainya lagi. Sayang, tindakan Selir Li yang mendoakan putranya disalah artikan oleh Permaisuri Liu dan sang permaisuri mengadukannya pada Kaisar. Permaisuri Liu menuduh Selir Li mengguna-gunai dirinya dan Kaisar untuk balas dendam karena sudah dikirim ke istana dingin. Karenanya, Kaisar memerintahkan agar Selir Li dihukum mati.

Mendengar hal ini, Chen Lin dan kasim bawahannya (Sebut saja Sen) berusaha menolong Selir Li yang tidak bersalah. Mereka menyiapkan seorang kasim kecil yang wajahnya mirip dengan selir Li untuk menggantikannya mati. Selir Li awalnya tidak menyetujui rencana ini, namun atas desakan Chen Lin dan yang lainnya dan juga demi sang Pangeran Kecil; Selir Li berhasil disusupkan keluar istana dengan disamarkan menjadi kasim kecil. Kasim Sen sendiri membakar istana dingin berserta dirinya sendiri untuk menutupi semua bukti. Guo Hai dan Permaisuri Liu percaya kalau Selir Li sudah mati karena di puing-puing sisa kebakaran ditemukan 2 mayat yang hangus terbakar, yaitu mayat Kasim Sen dan kasim kecil yang dikira sebagai mayat Selir Li. Semua orang menganggap kebakaran itu terjadi akibat kecerobohan Kasim Sen.

Selir Li yang berhasil keluar istana dititipkan pada seorang kenalan Chen Lin untuk bersembunyi sementara waktu dan menunggu hingga sang Pangeran Kecil sudah diangkat menjadi Kaisar (bila sudah menjadi Kaisar, Permaisuri Liu tidak akan bisa lagi mencelakainya) baru membongkar semua kenyataan ini. Sayang, kenalannya ini jatuh miskin dan akhirnya meninggal karena sakit. Selir Li mengangkat putra penolongnya (si tukang sayur di awal cerita) sebagai anak dan mereka berdua pun hidup kekurangan tanpa bisa mengungkap rahasia ini hingga sekarang.


Para Tikus yang telah menyelesaikan tugasnya berpamitan pada Bao dan Zhan Zhao untuk kembali ke markas mereka. Diam-diam Bai Yu Tang berputar di tengah jalan dan kembali ke Kaifeng. Sebenarnya ini adalah rencana Bao dengan kelima tikus untuk membuat Guo Hai merasa aman karena pendekar-pendekar sakti yang menghalangi upayanya sudah pergi.

Benar saja, malamnya datang pembunuh bayaran yang dikirim Guo Hai untuk menghabisi Selir Li dan Chen Lin sekaligus. Guo Hai merasa pembunuh bayaran yang dikirimnya tentulah cukup banyak untuk menghadapi serta mengalihkan perhatian Zhan Zhao dan para bawahannya agar pembunuh yang lain bisa menggunakan kesempatan ini membunuh Selir Li. Sungguh tak mereka sangka, ternyata Bai Yu Tang telah menunggu di depan kamar selir Li . Bai Yu Tang, yang kalau menghadapi pembunuh bayaran menjadi jauh lebih kejam dari Zhan Zhao (menurutnya, pendekar yang menggunakan keahlian mereka untuk menjadi orang bayaran adalah manusia rendah yang mencoreng nama baik dunia persilatan dan karenanya tak pantas untuk hidup ) menghabisi mereka semua tanpa ampun hingga Zhan Zhao tak sempat mencegahnya.




Kali ini Bai Yu Tang benar-benar akan pulang ke Pulau XianKong setelah menyelesaikan misinya. Bao menawarinya untuk menjadi pejabat seperti Zhan Zhao, namun Bai yang lebih suka hidup bebas sebagai pendekar dan tak mau terikat aturan istana menolaknya. Bila Bao atau Zhan Zhao membutuhkan bantuannya Bai Yu Tang siap datang membantu kapan saja dibutuhkan; termasuk bila Kaisar masih berniat menghukumnya, Bai akan segera datang menerima hukuman (protesnya Zhan Zhao tak digubris  ).

Bao mencari akal untuk memancing Guo Hai ke Pengadilan Kaifeng tanpa membuat ibusuri curiga. Bersama Chen Lin, Bao menceritakan pada Guo Hai mengenai masalah keluarga Kou Chu. Chen Lin mengatakan pada Guo Hai kalau keluarga Kou Chu yang tinggal di kampung yang sama dengannya mencari-cari gadis itu. Untuk menyesuaikan cerita, Guo Hai menyatakan kalau Kou Chu meninggal karena bunuh diri sebab tak tahan kesepian di istana dan merindukan keluarganya. Guo Hai-pun bersedia membayarkan tunjangan untuk keluarga Kou Chu. Tak dinyana, ternyata semua ini adalah karangan Bao dan Chen Lin, karena Kou Chu sama sekali tak memiliki keluarga. Guo Hai ditangkap dengan tuduhan membunuh Kou Chu dan berbohong untuk menutup-nutupi kematiannya.

Case 1 – Beating the Dragon Robe / A Civet for a Prince, Part 6

Bagaimanapun, Guo Hai masih tak mau mengakui hal yang sebenarnya. Guo Hai sengaja mengulur waktu agar ibusuri bisa menggunakan kesempatan ini untuk membujuk Kaisar membuat perintah membebaskannya. Bao yang tak kekurangan akal menyuruh seorang pengawal berpura-pura menyuap Guo Hai di penjara (karena Kuo Hai adalah kasim kepercayaan ibusuri, dia pasti bisa dengan mudah membujuk ibusuri) untuk membantunya naik pangkat. Pengawal itu juga menuangkan arak yang disambut dengan gembira oleh sang kasim yang tidak menaruh curiga.

Selanjutnya Bao membuka sidang di malam hari. Pada Guo Hai, para pengawal mengatakan kalau Bao di siang hari mengadili manusia, pada malam hari mengadili arwah. Guo Hai disidang dengan penuntutnya adalah arwah Kou Chu. Guo Hai yang melihat sang arwah ketakutan dan mengakui semua perbuatannya serta menandatangani surat pernyataan; termasuk mengenai peristiwa menukar pangeran dengan kucing itu.

Sebenarnya semua ini hanyalah strategi Bao untuk membuat sang kasim ketakutan. Arak yang dituangkan oleh si pengawal di penjara telah membuat Guo Hai mabuk. Dalam kondisi mabuk hingga tak bisa melihat dengan jelas, Guo Hai-pun meyakini kalau orang yang dibayar untuk menyamar menjadi ‘arwah’ Kou Chu adalah arwah yang sebenarnya. Guo Hai yang telah menandatangani surat pernyataan pun dieksekusi.

Bao menyerahkan surat pengakuan Guo Hai pada Kaisar yang awalnya marah pada Bao karena ulah Bao yang sembarangan membunuh kasim kesayangan ibusuri (ibusuri sudah menceritakan pada Kaisar perihal Guo Hai ditangkap Bao, namun belum sempat Kaisar membuat perintah pembebasan, Guo Hai sudah terlanjur dieksekusi). Membaca pernyataan yang ditandatangani sendiri oleh Guo Hai, Kaisar akhirnya tahu mengenai kejahatan ibusuri yang demi kedudukan tega mencelakai orang lain. Kaisar juga mengampuni kesalahan Bai Yu Tang berkat jasanya melindungi Chen Lin, sang saksi kunci.

Kaisar menanyakan di mana keberadaan pangeran yang dilahirkan Selir Li. Bao akhirnya mengatakan kalau pangeran itu tak lain adalah sang Kaisar sendiri, dan membuatnya shock hingga tak bisa lagi berpikir dengan jernih. Bao meminta Kaisar segera menghukum ibusuri Liu dan menjemput ibu kandungnya, selir Li ke istana; namun sang Kaisar malah mengusir Bao. Bagi sang Kaisar, budi ibu yang mengasuh sama besar dengan budi ibu yang melahirkan. Bagaimanapun Kaisar selama ini telah menganggap ibusuri Liu sebagai ibu kandungnya. Hal itulah yang menjadi penyebab keraguannya untuk segera mengakui selir Li.

Zhan Zhao yang mendengar keraguan Kaisar ini dari Bao merasa marah pada sang Kaisar. Zhan Zhao sudah berniat akan pergi ke istana untuk menyeret anak tidak berbakti itu (Kaisar) ke Kaifeng untuk menghadap ibu kandungnya . Tak disangka, Bao malah mendukung sikap sang perwira dan segera bersama-sama kembali ke istana menemui sang Kaisar (Bao sekaligus berniat menjaga agar Zhan Zhao yang sudah terbawa emosi tidak melakukan hal yang sembrono).

Di istana, Kaisar yang akhirnya menyadari kesalahannya menyatakan pada ibusuri Liu akan menjemput ibu kandungnya, Selir Li kemudian memberikan penghormatan terakhirnya. Ibusuri Liu akhirnya bunuh diri karena sudah tidak ada jalan keluar lain baginya. Kaisar pergi ke Pengadilan Kaifeng untuk menjemput ibu kandungnya ke istana.


Selir Li yang sudah terlanjur sakit hati mendengar penolakan Kaisar sebelumnya menolak dijemput ke istana meski Kaisar sudah memohon dan berlutut di hadapannya. Sang selir malah meminta Bao mengadili Kaisar. Kaisarpun bersedia untuk dihukum oleh Bao sesuai aturan yang berlaku. Bao bingung, hukuman bagi anak yang tidak berbakti adalah hukuman dipukul 20 kali, namun tubuh Kaisar sebagai Putra Langit tak boleh dilukai.

Gong Sun memiliki ide bagus untuk mengatasi masalah ini. Bagaimanapun marahnya, selir Li sebagai seorang ibu tentu tak tega melihat anaknya terluka meski di luar nampak bersikukuh ingin menghukumnya. Karena itu, yang akhirnya dipukul adalah Jubah Naga yang dikenakan sang Kaisar, karena Jubah Naga bisa dianggap mewakili sang Kaisar sendiri (karena itulah judul lain cerita ini adalah ‘Memukul Jubah Naga’). Dengan demikian, Kaisar tak perlu terluka, selir Li merasa puas sekaligus lega, dan Bao juga tidak usah menanggung kesalahan karena melukai Putra Langit. Pada akhirnya, Kaisar memboyong selir Li, ibu kandungnya ke istana dan menjadikannya ibusuri yang baru.





THE END

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...